Selasa, 05 April 2011

contoh metode penelitian

METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment). Peneliti menggunakan kelompok-kelompok untuk perlakuan karena peneliti tidak dapat memilih individu-individu secara acak. Kelompok-kelompok yang diberikan perlakuan adalah kelas-kelas yang di SMP Pembangunan Piyungan.
2. Desain Penelitian
Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu motivasi belajar siswa pada matematika dan keterampilan matematika siswa sedangkan variabel bebas yaitu pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan Team Games Turnamen (TGT). Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi-Experiments dengan Nonequivalent (pretest and post-test) group design. Kelompok A diberi perlakuan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelompok B diberi perlakuan pembelajaran kooperatif tipe TGT. Pada kedua kelompok tersebut dilakukan pretes dan post-tes. Rancangan penelitian disajikan pada gambar berikut: Nonequivalent (pretest and post-test) group design
Keterangan:
G.A : Kelompok pertama
G.B : Kelompok kedua
X1 : Perlakuan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
X2 : Perlakuan pembelajaran kooperatif tipe TGT
Pe : Pretes (tes awal)
Po : Posttes (tes akhir)
Y1 : Motivasi belajar siswa pada matematika
Y2 : Keterampilan matematika
(modifikasi Creswell, 2003: 169)
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada siswa kelas VII di SMP Pembangunan Piyungan semester genap tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011, selama tiga bulan yaitu bulan Januari dan Maret 2011 dengan membelajarkan materi pokok himpunan.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dari penelitian adalah seluruh siswa SMP Pembangunan Piyungan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Game Turnamen). Sementara kelas yang dijadikan unit penelitian ditentukan dari seluruh kelas VII yang ada di SMP Pembangunan Piyungan yaitu masing-masing satu kelas.
D. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas (independent) dan 2 variabel terikat (dependent). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa pada pembelajaran matematika dan keterampilan matematika.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, data diperoleh langsung oleh peneliti dengan memberikan perlakuan kepada kedua kelas eksperimen. Dengan demikian, data penelitian merupakan data primer. Teknik pengumpulan data yang dimaksud adalah cara-cara atau tahapan yang dilalui dalam pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dengan tes untuk mengukur keterampilan matematika dan non tes untuk mengukur motivasi belajar dengan tahapan sebagai berikut:
Menyusun instrumen penelitian (silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, kisi-kisi soal pretes dan posttes untuk mengukur keterampilan matematika dan kisi-kisi item pretes dan posttes untuk mengukur motivasi belajar siswa pada matematika, serta rubrik penskoran sesuai dengan variabel yang akan diteliti).
1. Meminta beberapa dosen untuk memvalidasi instrumen penelitian
2. Melakukan ujicoba instrumen penelitian
3. Estimasi reliabilitas instrumen penelitian
4. Revisi instrumen penelitian
5. Memberikan pretes kepada kedua kelompok siswa di masing-masing kelas
6. Melaksanakan penelitian secara bersama-sama dengan guru di sekolah
7. Memberikan posttest kepada sampel penelitian

F. Instrumen Penelitian
1. Instrumen Tes
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes keterampilan matematika siswa sebagai variabel terikat (dependent). Pada tes keterampilan matematika siswa berbentuk essay yang berjumlah 13 soal pada 5 (lima) kompetensi dasar untuk mendeskripsikan keterampilan matematika siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada siswa kelas VII SMP Pembangunan Piyungan tahun pelajaran 2010/2011. Kisi-kisi instrumen tes keterampilan matematika adalah sebagai berikut:
Tabel 2 (buatkan tabel berdasarkan kompetensi dasar)
Kisi-kisi instrumen keterampilan matematika.
Kompetensi Dasar
Indikator soal
Nomor soal

2. Instrumen Non Tes
Sesuai dengan variabel dependent penelitian ini bahwa variabel motivasi disusun dengan instrumen non tes. Adapun kisi-kisi instrumen motivasi belajar siswa pada matematika adalah:
Tabel 3
Kisi-kisi instrumen motivasi belajar siswa pada matematika.

Dimensi Indikator soal Nomor item
Motivasi
Intrinsik
Adanya hasrat atau keinginan berhasil.1+, 2-, 3-, 4+, 5+,6+
Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.7+, 8+, 9+
Adanya harapan atau cita-cita masa depan.10-,11+,12+,13+,14+

Motivasi
Ekstrinsik
Adanya penghargaan dalam belajar.15-, 16+, 17+
Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan belajar dengan baik. 18+, 19+, 20+, 21-
Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar. 22-, 23+, 24-, 25-

G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas Instrumen
Bukti validitas instrumen yang diperlukan adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk. Untuk memperoleh bukti validitas isi (content validity) dilakukan dengan cara meminta pertimbangan ahli (expert judgment) terkait dengan validitas isi yaitu tiga orang ahli yang berkompeten di bidang yang bersangkutan. Ahli yang peneliti minta untuk memvalidasi instrumen diantaranya dua orang dosen dengan gelar akademik doktor (Dr. Sugiman & Dr. Djamilah BW) dan satu orang dosen dengan gelar akademik magister (Himmawati Puji Lestari, M.Si) serta satu orang guru (Kisyanti, S.Pd). Disamping itu, penyusunan instrumen juga mendapatkan bimbingan dari pembimbing. Setelah mendapatkan persetujuan dari para ahli, maka diujicobakan kepada 27 orang siswa dengan kemampuan hampir sama dengan sampel penelitian. Siswa yang dijadikan responden untuk uji coba instrumen adalah siswa kelas VIII SMP Pembangunan Piyungan. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 22 halaman 276.
Menentukan validitas dari item tes yang dibuat, daya beda dari item juga diuji. Daya beda isi dari suatu item tes dapat dinyatakan dalam suatu koefisien korelasi. Untuk mengetahui daya beda suatu tes dapat ditentukan dengan mencari koefisien korelasi skor item tertentu dengan skor item total menggunakan formula koefisien korelasi Pearson Product Moment. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
rxy = (N∑▒XY- (∑▒X) (∑▒Y))/√([N∑▒〖X^2- (∑▒X)^2 〗] [N∑▒〖Y^2- (∑▒Y)^2 〗] )
Dengan,
rxy = koefisien korelasi
X = Skor Item Tes
Y = Jumlah Skor Item
N = Banyaknya peserta tes
Selanjutnya, untuk mengetahui valid atau tidak validnya item tes dan non tes tersebut digunakan uji t dengan rumus:
t = r_xy/√((1-r_xy^2)/(n-2))
Hasil thitung kemudian dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikansi (α) dan derajat kebebasan (dk) = n – 2. Apabila nilai thitung > ttabel maka item tersebut valid dan sebaliknya. Validitas suatu item tes dan non tes dilakukan analisi dengan manual (bantuan program Ecxell).
Berdasarkan hasil perhitungan dibandingkan dengan ttabel untuk α = 0,05 dan dk = 25, yaitu 1,703. Berdasarkan perhitungan tersebut, jumlah item instrumen keterampilan matematika yang valid pada pretest dan posttest untuk digunakan dalam penelitian berjumlah 13 item, begitu pula dengan jumlah item pada instrumen motivasi belajar siswa pada matematika berjumlah 25 item. Perhitungan terhadap masing-masing variabel pengukuran dapat dilihat pada lampiran 12 halaman 260.
2. Estimasi Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumen tes dan non tes berhubungan dengan kepercayaan dan keajegan hasil ujicoba. Suatu ujicoba dapat dikatakan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi jika ujicoba tersebut dapat memberikan hasil yang tetap.
Untuk instrumen ini dilakukan analisis dengan mencari indeks reabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach. Adapun rumus Alpha Cronbach yang digunakan yaitu:
r11 = {n/(n-1)}{1- (∑▒σ_i^2 )/(σ_t^2 )}
Keterangan:
r11 = koefisien reliabilitas
n = jumlah butir tes
= jumlah varian skor tiap-tiap butir tes
= varian total
Jika memungkinkan untuk melakukan tes terhadap siswa secara berulang-ulang dengan menggunakan tes yang sama, maka tentu akan menghasilkan hasil tes yang bervariasi. Bervariasinya skor tes yang diperoleh berkaitan dengan tingkat reliabilitas tes. Reliabilitas yang kecil pada umumnya mengindikasikan perbedaan yang mencolok pada skor tes peserta didik, sebaliknya reliabilitas yang kuat cenderung berakibat pada variasi yang kecil. Walaupun pada prakteknya jarang untuk melakukan tes yang sama secara berulang-ulang pada sekelompok siswa, namun memungkinkan untuk mengestimasi besarnya variasi yang mungkin akibat pemberian tes tertentu. Nilai dari estimasi inilah yang dikenal sebagai Standar Eror Pengukuran (SEM). SEM bisa ditentukan dengan melakukan tes berulang-ulang kepada sekelompok siswa, kemudian menentukan rata-rata nilainya. Namun, karena hal tersebut tidak memungkinan untuk dilakukan maka SEM dapat dhitung dengan menggunakan persamaan berikut:
SEM = 〖SD〗_x √(1-koefisien reliabilitas)
Dimana:
SEM : Standart Eror Meaurement
SDx : Standar deviasi (Nitko, 2007: 76)
Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS 16 for window didapat nilai koefisien reliabilitas pada instrument keterampilan matematika dengan Alpha Cronbach adalah 0,732. Sedangan pada instrument motivasi belajar pada matematika adalah 0,839. Kemudian nilai SEM pada instrumen keterampilan matematika adalah 10,058, sedangkan pada instrumen motivasi belajar siswa pada matematika adalah 6,043. Perhitungan terhadap masing-masing variabel pengukuran dapat dilihat pada lampiran 13 halaman 263.
H. Teknik Analisis Data
Data penelitian yang dianalisis adalah data pretes dan postest pada aspek motivasi belajar siswa pada matematika dan keterampilan matematika. Data pretes untuk mengetahui gambaran awal kedua kelompok siswa kemudian selanjutnya post-tes untuk mendeskripsikan data perbedaan keefektifan metode pembelajaran yaitu metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT. Adapun yang dianalisis adalah sebagai berikut:
1. Analisis keefektifan metode pembelajaran
Keefektifan metode pembelajaran ditentukan berdasarkan indeks keefektifan. Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar matematika di SMP Pembangunan Piyungan yaitu siswa dikatakan tuntas belajar apabila mencapai nilai minimal 6,50 untuk skala 10 atau 65,00 untuk skala seratus, maka kriteria pencapaian tujuan pembelajaran aspek keterampilan matematika ditetapkan lebih dari 64,99.
Kategori keefektifan metode pembelajaran aspek afektif yaitu motivasi belajar siswa pada matematika ditetapkan rata-rata siswa mencapai skor motivasi belajar siswa pada matematika lebih dari 74,99. Kategori keefektifan metode pembelajaran aspek afektif didasarkan pada pedoman kategorisasi (Mardapi, 2008: 123) yang tertera pada tabel 4 berikut:
Tabel 4
Kategorisasi motivasi belajar siswa pada matematika
No. Skor siswa Kategori
1. M x ̅ + 1. SBx
Sangat tinggi
2. x ̅ + 1. SBx > M x ̅
Tinggi
3. x ̅ > M x ̅ - 1. SBx
Cukup tinggi
4. M < x ̅ - 1. SBx Rendah

Keterangan:
M adalah skor motivasi belajar siswa
SBx adalah simpangan baku skor keseluruhan motivasi belajar siswa
x ̅ adalah rata-rata skor keseluruhan motivasi belajar siswa
Skor yang diberikan siswa terhadap pernyataan-pernyataan dalam angket motivasi belajar siswa pada matematika dibuat dengan ketentuan adalah (1). untuk pernyataan dengan kriteria positif: 1 = tidak pernah, 2 = jarang, 3 = kadang-kadang, 4 = sering, dan 5 = selalu. (2). untuk pernyataan dengan kriteria negatif: 5 = tidak pernah, 4 = jarang, 3 = kadang-kadang, 2 = sering, dan 1 = selalu.
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
Ho : μ_1 ≤ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ha : μ_1 ˃ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ho : μ_2 ≤ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ha : μ_2 ˃ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe TGT efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ho : μ_3 ≤ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Ha : μ_3 ˃ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Ho : μ_4 ≤ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Ha : μ_4 ˃ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Selanjutnya dilakukan uji one sample t test dengan menggunakan bantuan SPSS 16 for window yaitu untuk melihat keefektifan masing-masing metode pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa pada matematika maupun keterampilan matematika siswa. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
t = (x ̅-μ_0)/(S/√n)
Keterangan:
x ̅ adalah nilai rata-rata yang diperoleh
μ_0 adalah nilai yang dihipotesiskan
S adalah standar deviasi sampel yang dihitung
n adalah jumlah sampel
Kriteria pengujiannya adalah H0 ditolak jika nilai signifikansi lebih kecil 0,05. Uji hipotesis menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
2. Analisis perbedaan metode pembelajaran
Untuk menyelidiki perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT ditinjau dari aspek keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika dilakukan dengan uji multivariat kemudian dilanjutkan uji univariat yaitu uji t untuk menentukan variabel mana yang berkontribusi terhadap perbedaan keseluruhan. Analisis dilakukan dua tahap yaitu analisis kondisi awal dan analisis kondisi akhir. Adapun tahapan pengujian adalah sebagai berikut:
2.a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji normal multivariat dilakukan dengan pendekatan univariat yaitu dengan uji Kolmogorov Smirnov, dengan kriteria jika nilai siginifikansi lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal. Uji normalitas digunakan pada data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji normalitas menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
2.b. Uji homogenitas
Uji homogenitas digunakan data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji homogenitas dimaksudkan untuk menguji kesamaan matriks varians-kovarians dari variabel dependen pada penelitian ini. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan terhadap masing-masing variabel dependen dan terhadap keseluruhan variabel dependen. Data yang digunakan adalah data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji homogenitas terhadap keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa terhadap matematika secara sendiri-sendiri menggunakan Levene Test. Sedangkan uji homogenitas terhadap terhadap keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika secara bersama-sama menggunakan Uji Box’s M. Jika angka signifikansi (probabilitas) yang dihasilkan baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri lebih besar dari 0.05, maka matriks varians-kovarians pada variabel dependen adalah homogen. Apabila tidak homogen, maka salah satu variabel diubah dengan transformasi ke dalam bentuk log atau akar. Apabila data telah berdistribusi normal dan variannya homogen, maka dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Uji homogenitas menggunakan bantuan SPSS 16 for window
Uji hipotesis
Uji Multivariat Kondisi Awal
Pengujian hipotesisnya sebagai berikut:
H0 ; keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas A tidak berbeda dengan keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas B.
Ha ; keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas A tidak berbeda dengan keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas B.
Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis adalah H0 diterima jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 atau Fhitung ≥ Ftabel pada taraf signifikansi 5%. Karena itu disimpulkan bahwa keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika di kelas A tidak berbeda dengan keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas B, atau dengan kata lain kondisi awal subjek penelitian pada kedua kelompok sama ditinjau dari keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa. Uji hipotesis menggunakan bantuan SPSS 16 for window
Uji Multivariat Kondisi Akhir
Pengujian hipotesis tahap pertama dengan hipotesis sebagai berikut:
H01 ; Tidak terdapat perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT ditinjau dari aspek keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika.
Ha1 ; Terdapat perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT ditinjau dari aspek keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat disimbolkan sebagai berikut:
H01 : (■(μHP@μSP)) =(■(μHK@μSK))
Ha1 : (■(μHP@μSP)) ≠ (■(μHK@μSK))
Dimana μHP menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan μSP menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Sedangkan μHK menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan μSK menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Perhitungan untuk menguji hipotesis di atas, dapat menggunakan uji multivariat. Uji multivariat menggunakan statistic T2 Hotelling dengan mentransformasikan nilai dari distribusi F.
T2 = (n_1 x n_2)/(n_1+ n_2 ) ((y_1 ) ̅-(y_2 ) ̅ )^' S^(-1) ((y_1 ) ̅-(y_2 ) ̅ ) (Steven, 2002: 176)

Keterangan:
T2 = Hotelling Trace
n1 = besar sampel dari populasi I
n2 = besar sampel dari populasi II
(y_1 ) ̅ = vektor rerata skor sampel I
(y_2 ) ̅ = vektor rerata skor sampel II
S = matriks dispersi
Selanjutnya ditransformasi untuk memperoleh nilai dari distribusi F dengan menggunakan formula adalah
F =(n_1+ n_2-p-1)/(〖(n〗_1+ n_2-2)p) T2 (Steven, 2002: 177)
Kriteria pengujiannya adalah H01 ditolak jika Fhitung ≥ F(p,n1 + n2 – p – 1;0.05) atau angka signifikansi (probabilitas) yang dihasilkan lebih kecil dari 0.05. Uji hipotesis pertama menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
Uji Univariat
Berdasarkan hasil uji hipotesis tahap pertama bahwa terdapat perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT terhadap keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika, maka dilakukan statistik uji t untuk menentukan kelompok – kelompok tertentu yang berkontribusi terhadap perbedaan secara keseluruhan. Kriteria yang digunakan adalah kriteria Bonferroni dimana taraf siginfikansinya adalah α/p (p = 2) jadi untuk α = 0,05% untuk masing-masing uji t digunakan kriteria 0,05/2 = 0,025. Rumus yang digunakan dalam menguji hipotesis tersebut dengan menggunakan statistik uji t. Rumus yang digunakan adalah:
t = ((y_1 ) ̅-(y_2 ) ̅)/√(((n_1-1) S_1^2+ (n_2-1) S_(2 )^2)/(n_1+ n_2-2) (1/n_1 + 1/n_2 ) ) (Stevens, 2002: 176)

Keterangan:
(y_1 ) ̅ = Nilai rata-rata sampel I
(y_2 ) ̅ = Nilai rata-rata sampel II
S_1^2 = varian sampel kelompok I
S_2^2 = varian sampel kelompok II
n = jumlah anggota sampel.
Kriteria pengujiannya adalah H0 ditolak jika thitung ≥ t(0,025;n1+n2-2) atau nilai signifikansi lebih kecil 0,025. Uji hipotesis menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
Pengujian hipotesis tahap kedua, dengan hipotesis sebagai berikut:
H02 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap keterampilan matematika siswa.
Ha2 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap keterampilan matematika siswa.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat disimbolkan sebagai berikut:
H02 ; μHP ≤ μHK
Ha2 ; μHP ˃ μHk
Di mana μHP menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, sedangkan μHK menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Perhitungan untuk menguji hipotesis tahap kedua, dapat menggunakan statistik uji t dua sampel bebas. Kriteria pengujiannya adalah jika thitung ≥ t(0,025;n1+n2-2) atau nilai signifikansi lebih kecil 0.025. maka H02 ditolak. Uji hipotesis kedua menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
Pengujian hipotesis tahap ketiga, dengan hipotesis sebagai berikut:
H03 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap motivasi belajar siswa pada matematika.
Ha3 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap motivasi belajar siswa pada matematika.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat disimbolkan sebagai berikut:
H03 ; μSP ≤ μSK
Ha3 ; μSP ˃ μSK
Di mana μSP menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, sedangkan μSK menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT.

Syahrir, S.Pd

1 komentar:

  1. jika tidak bisa begitu paham dengan teks di sini, bisa di minta. kirim aja emailx..

    BalasHapus