Selasa, 24 Agustus 2010

PENILAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A. Pengertian Penilaian
Dalam mengembangkan penilaian pembelajaran matematika perlu adanya secara umumnya memahami beberapa pengertian berdasarkan peraturan pemerintah (Permen) nomor 20 tahun 2007 menjelaskan beberapa pengertian dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
2. Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
3. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
4. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
5. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8–9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh kompetensi dasar pada periode tersebut.
6. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua kompetensi dasar pada semester tersebut.
7. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan kompetensi dasar pada semester tersebut.
8. Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan.
9. Mata pelajaran yang diujikan adalah mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah.
Menurut Djemari Mardapi (2004: 16) menjelaskan bahwa sistem penilaian merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Ditambahkan selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar lebih baik. Masnur Mukhlis (2008: 78) menyatakan penilaian adalah proses sistematis pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis dan interpretasi informasi untuk memberikan keputusan terhadap kadar hasil kerja.
Keberhasilan merupakan harapan setiap orang, demikian juga guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Keberhasilan tersebut dapat diketahui dengan melakukan penilaian atau evaluasi. Penilaian merupakan salah satu subsistem pendidikan yang penting dalam sistem pendidikan karena mencerminkan perkembangan atau kemajuan pendidikan dari satu ke waktu lain. Selain itu, melalui penilaian dapat dibandingkan dengan tingkat pencapaian prestasi pendididkan antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.
Penilaian merupakan rangakaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Pada dasarnya, yang dinilai adalah program, yaitu yang sudah direncanakan sebelumnya, lengkap dengan rincian kegiatan.
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diharapkan diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakan. Hasil belajar seorang peserta dalam periode tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan demikian siswa tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.
Mengenai proses penilaian Chittenden (Djemari Mardapi 2008: 17) menjelaskan bahwa kegiatan penilaian itu dalam proses pembelajaran diarahkan pada empat hal yaitu, (1) penelusuran, (2) pengecekan, (3) pencarian, dan (4) penyimpulan. Dalam Permen Diknas Nomor 20 tentang Standar Penilaian Pendidikan (2007: 8-9) disebutkan teknik penilaian adalah (1) penilian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok dan bentuk lainnya yang sesuai dengan karaktristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik, (2) teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau kinerja, (3) teknik observasi atau pengamatan dilakkukan selama pemebelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran, (4) teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek (5) instrument penilaian hasil belajar yang digunakan memenuhi persyaratan, (6) instrument penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan, dan (7) sesuai dengan instrumen yang digunakan oleh pemerintah.
Dengan penilaian dapat dijadikan suatu pelajaran yang berarti bagi setiap yang terlibat pada suatu jenjang pendidikan, baik guru, siswa, orang tua, dan instansi guna dapat menentukan langkah terbaik untuk masa selanjutnya. Sehubungan dengan penelitian penilaian yang dimaksud adalah penilaian terhadap hasil tulisan siswa yang disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada mata pelajaran Matematika.
B. Manfaat Penilaian
Fungsi penilaian ada dua yaitu (1) mengukur prestasi siswa dan mengkontribusikannya kepada evaluasi kemajuan pendidikan dan tingkat pencapaian, (2) memotivasi dan mengarahkan pembelajaran siswa (Ebbel ,1979 : 22). Permen Diknas Nomor 41 tentang Standar Proses (2007:18) dinyatakan penilaian dilakukan oleh guru terhadap pembelajaran untuk mengukur tingakat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemampuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Manfaat suatu penilaian dapat dijadikan sebagai suatu acuan untuk berbuat yang lebih pada masa yang akan datang, demikaian penilaian yang dilakukan dalam penilaian menulis pada mata pelajaran Matematika dapat memberikan manfaat bagi semua yang terlibat dalam pendidikan, seperti guru, siswa, dan orang tua dari siswa. Informasi tentang tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak hanya diperlukan oleh guru. Semua pihak yang terlibat dalam dalam pengolahan pendidikan, baik pemerintah, lembaga masyarakat atau yayasan, orang tua, maupun siswa sangat memerlukan inforamasi tentang tingkat keberhasilan serta tingkat efisiensi di dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.
Pelaksanaan penilaian akan memberikan beberapa manfaat kepada semua yang terlibat dalam pengolahan pendidikan. Bagi guru tentu akan dapat berbuat untuk sebagai (feedback) dalam melakukan langkah-langkah dalam pembelajaran. Dari penilaian, guru dapat mengetahui kemajuan dan prestasi belajar siswanya, yang akan digunakan untuk kenaikan kelas, kelulusan, atau keperluan lainnya.
Orang tua juga dapat manfaat, dapat memantau kemajuan belajar anaknya. Dari hasil ini, dapat memperhatikan belajar atau dapat menentukan langkah-langkah yang bagus untuk kemajuan anaknya. Siswa dapat juga akan memperoleh manfaat, dengan penilaian akan dapat mengetahui prestasi dan daya serap dirinya pada mata pelajaran tertentu. Informasi itu membuat siswa mengetahui apa yang belum dikuasai.
Informasi tentang tingkat keberhasilan tujuan pendidikan tidak hanya diperlukan guru. Semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan, baik pemerintah, lembaga masyarakat atau yayasan, orang tua, maupuan siswa sangat memerlukan informasi tentang tingkat efisiensi di dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.
Pelaksanaan penilaian akan memberikan beberapa manfaat baik guru, orang tua, maupun guru. Bagi guru, penilaian akan memberikan umpan balik (feed-back) dalam melakukan langkah-langkah pembelajaran. Dengan adanya penilaian, guru juga dapat mnegetahui kemajuan dan prestasi siswa yang dapat dapat gigunakan untuk kenaikan kelas, kelulusan, atau keperluan yang lain. Siswa juga mendapatkan manfaat dari pelaksanaan penilaian. Melalui penilaian siswa dapat mengetahui prestasi dan daya srap dirinya mata pelajaran tertentu. Informasi akan membuat siswa mengetahui bagian-bagian materi yang belum dikuasai atau bagian materi yang perlu kuasai dengan baik.
Penilaian hasil tulisan siswa secara tertulis dalam bentuk karangan atau yang lain akan dapat menberikan manfaat seperti mampu menulis tentang apa yang pernah dilihat, bagaimana penulisan yang baik, bagaimana proses menulis, dengan demikian akan sehingga dapat mendapatkan hasil tulisan yang baik dan benar, sebagaimana tujuan dari belajar pada mata pelajaran Matematika.
C. Prinsip-prinsip Penilaian
Dalam Permen Diknas Nomor 20 tentang Standar Penilaian Pendidikan (2007: 7-8) disebutkan prinsip penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip (1) sahih, (2) obyektif, (3) adil, (4) terpadu, (5) terbuka, (6) menyeluruh dan berkesinambungan, (7) sistematis, (8) beracuan criteria, dan (9) akuntabel. Sedangkan Masnur Mukhlis (2008: 79) menyebutkan penilaian harus memperhatikan validitas, reliabilitas, focus kompetensi, komprehensip, obyektif, dan mendidik.
Penilaian bukan sekedar memunculkan angka-angka saja tapi harus memberikannya atau memunculkan penuh pertimbangan atau setidaknya memegang prinsip supaya penilaian tersebut dengan bentuk angka yang dapat mewakili tentang sesuatu yang dinilai.
Kriteria penilain yang baik adalah penilaian yang obyektif maksudnya dengan memberikan penilaian apa adanya, tanpa adanya ketentuan lain yang sifatnya memaksa apalagi terpaksa atau pemberian penilaian dengan melibatkan unsur-unsur yang tidak terkait dengan apa yang akan diberi nilai (hasil kerja siswa sewaktu ujian).
Masnur Mukhlis (2008: 79) menyebutkan penialian yang baik memiliki kriterian meliputi validitas, reliabilitas, menyeluruh, berkesinambungan, obyektif, dan mendidik. Alat penilaian disebut tepat (valid) apabila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan kata lain alat ukur tersebut mampu memenuhi fungsinya sebagai alat ukur. Alat penilaian harus memiliki reliabilitas, maksudnya penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan dengan reliable dan menjamin konsisten. Selain harus memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, alat ukur yang baik harus menyeluruh, berkesinambungan, obyektif, dan mendidik.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh yaitu mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif.
1) Kognitif adalah kemampuan berpikir yang menurut taksonomi bloom secara hirarkis terdiri atas pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ini dapat di nilai dengan tes.
2) Afektif adalah berhubungan dengan sikap, minat dan atau nilai-nilai. Kondisi ini tidak dapat dideteksi dengan tes tetapi dapat diperoleh melalui angket, inventori, atau pengamatan yang sistematik dan beklelanjutan. Sistematik berarti pengamatan mengikuti suatu prosedur tertentu sedangkan berkelanjutan memiliki arti pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus.
3) Psikomotorik adalah melibatkan gerak adaktif atau gerak terlatih dan keterampilan komunikasi berkesinambungan, gerak adatif terdiri atas keterampilan adaktif sederhana, adaktif kompleks dan adaktif gabungan.
Dalam evaluasi pembelajaran ada 3 kategori penilaian di kelas adalah penilaian ranah afektif siswa, penilaian kinerja siswa, dan penilaian portofolio siswa. Pada bagian ini dibahas pada bab VII. Jika guru memahami dan menyusun instrumen penilaian tersebut, secara idealnya guru tersebut mendapat suatu penghargaan tersendiri atau keberhasilan dalam pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar